jump to navigation

BELAJAR ISLAM YANG BAIK – PENDAHULUAN August 2, 2007

Posted by sephiroths in Islam.
trackback

1. Pengantar

Alhamdulillah bi idznillah saya bisa menulis beberapa hal yang memang sudah saatnya saya sampaikan. Hal ini saya maksudkan dalam rangka ta’awun syar’i (tolong menolong dalam hal kebaikan) berkenaan dengan beberapa fenomena yang saya lihat dan hadapi di sekitar lingkungan.

Ada beberapa hal sebenarnya yang ingin saya bahas di dalam artikel ini yang Insya Alloh akan terdiri dari beberapa bagian artikel. Artikel pertama akan saya jelaskan sedikit pengantar mengenai Islam itu sendiri. Apa itu Islam dari sisi bahasa dan istilah kemudian apa kewajiban dari setiap muslim. Kemudian pada artikel yang kedua Insya Alloh saya berencana akan menjelaskan hal-hal yang paling mendasar dari Islam ini mulai dari tauhid dan aqidah dimana salah satu hal di dalamnya ialah makna dua kalimat syahadat.

Sebelum masuk ke dalam pembahasan yang awal untuk mengingatkan kembali mengenai Islam itu sendiri maka saya mengajak untuk merenungkan dua buah ayat Al-Quran yakni :

Surah Al Baqoroh ayat 208

(يَأَيّهَا الّذِينَ آمَنُواْ ادْخُلُواْ فِي السّلْمِ كَآفّةً وَلاَ تَتّبِعُواْ خُطُوَاتِ الشّيْطَانِ إِنّهُ لَكُمْ عَدُوّ مّبِينٌ)

“Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara kaffah (keseluruhan) dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu”

Surah Al Ahzab ayat 21

(لّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لّمَن كَانَ يَرْجُو اللّهَ وَالْيَوْمَ الاَخِرَ وَذَكَرَ اللّهَ كَثِيراً)

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”

Mungkinkah terpikir diantara kita beberapa pertanyaan. “Sudahkah saya ber-Islam secara kaffah ?”. “Apakah saya sudah ber-Islam dengan benar ?”. “Apakah saya sudah mengikuti nabi dengan cara yang benar ?”. Pernahkah terpikir hal seperti ini di benak kita ?. Mungkin kemudian di benak kita akan muncul. “Kalau begitu bagaimana cara mengukur ke-Islaman kita ?”. “Sejauh mana kita sudah ber-Islam ?”. Ma huwa Islam ? (Apakah Islam itu ?).

Ada yang mengatakan Islam itu artinya “tunduk”, “patuh”, “selamat”. Benar tapi itu dari istilah bahasa (lughotan) tapi coba kita lihat pengertian Islam dari yang Rosululloh ajarkan. Mohon maaf saya tidak akan langsung menjelaskan kenapa celana saya cingkrang, kenapa saya tidak bersalaman dengan wanita yang bukan mahrom sebelum kita semua faham hal yang paling mendasar dari Islam itu sendiri. Berikut adalah pengertian Islam yang saya cuplik sebagian dari hadits no 2 dari Kitab Hadits Arbain An-Nawawi.

Pada suatu ketika para sahabat sedang duduk bersama Rosululloh tiba-tiba muncul seorang laki-laki yang memakai pakaian sangat putih dan rambutnya sangat hitam. Kemudian laki-laki tersebut duduk di hadapan Rosululloh dan berkata :

يا محمد! أخبرني عن الإسلام. فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “الإسلام أن تشهد أن لا إله إلا الله وأن محمدا رسول الله صلى الله عليه وسلم. وتقيم الصلاة. وتؤتي الزكاة. وتصوم رمضان. وتحج البيت، إن استطعت إليه سبيلا

“Wahai Muhammad kabarkan kepadaku tentang Islam”. Kemudian Rosululloh sholallohu ‘alaihi wa salam menjawab “Islam itu bersaksi bahwa tiada sesembahan yang haq kecuali Alloh dan sesungguhnya Muhammad adalah utusan Alloh. Hendaklah engkau mendirikan sholat, mengeluarkan zakat, berpuasa di bulan Romadhon, dan mengerjakan haji ke Baitulloh (Mekah) jika engkau mampu mengerjakannya” (HR. Muslim pada Kitabul Iman)[1]

Kita mungkin sudah pernah mendengar hadits ini pada saat masih SD atau SMP atau bahkan SMA. Pertanyaannya ialah sudahkah kita mengamalkannya ?. Sudahkah kita faham dengan matan (isi) hadits tersebut ?. Saya tidak menanyakan masalah hafal atau tidak karena kalau masalah hafal mungkin adik-adik kita yang masih SD juga sudah hafal. Akan tetapi fahamkah kita ?.

Perlu digaris bawahi jika memang kita ingin menegakkan syariat Islam itu sendiri maka tegakkanlah lebih dahulu kepada diri kita. Perlu diketahui juga syariat Islam tidak cuma sekedar “tidak membajak”, “membantu kaum dhuafa dengan teknologi yang terjangkau”, “potong tangan bagi yang mencuri”, “masalah riba” (untuk permasalahan riba akan saya terangkan di lain artikel, insya Alloh), “sunnahnya makan dengan tangan kanan”. Akan tetapi syariat Islam itu ialah keseluruhan baik itu dari segi ibadah maupun muamalah dan yang lain-lain yang telah diajarkan dan dicontohkan oleh Rosululloh.

2. Kewajiban Muslim

Untuk itu maka wajib bagi kita untuk mempelajari empat masalah. Pertama ilmu yaitu mengenal Alloh, mengenal Nabi-Nya, mengenal Dinul Islam berdasarkan dalil-dalil. Setelah berilmu, yang kedua ialah mengamalkannya. Yang ketiga mendakwahkannya. Dan keempat bersabar atas gangguan di dalamnya.

Apa dalilnya ?. Dalilnya ialah surah Al-Ashr

وَالْعَصْرِ [1] إِنّ الإِنسَانَ لَفِى خُسْرٍ [2] إِلاّ الّذِينَ آمَنُواْ وَعَمِلُواْ الصّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْاْ بِالْحَقّ وَتَوَاصَوْاْ بِالصّبْرِ[3]

“Demi masa, sesungguhnya manusia itu berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, mengerjakan amal sholih serta nasehat-menasehati dalam menegakkan kebenaran dan nasehat menasehati untuk menetapi kesabaran”

“Lho kenapa harus pake dalil ?”. Karena di dalam kita beragama harus ada landasan yang mendasari suatu amalan itu boleh atau tidak. Karena kalau kita beragama tanpa dalil yang shohih maka kita seperti orang-orang Nashoro yang jahil. Jangan pula kita menjadi seperti orang-orang Yahudi. Mereka berilmu tapi mereka tidak pernah beramal dengan ilmu mereka.

“Lalu rujukannya apa ?”. Tentu saja Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan pemahaman Rosululloh dan para sahabatnya. “Kenapa harus dengan pemahaman Rosululloh dan para sahabatnya ?”. Karena Al-Qur’an ini diturunkan kepada Rosululloh dan yang paling faham permasalahan hukum-hukum baik itu dari ibadah atau muamalah dan yang lainnya setelah Rosululloh ialah para sahabatnya kemudian para tabi’in (generasi setelah sahabat) setelah itu tabi’ut tabi’in (generasi setelah tabi’in). Untuk itu marilah kita sama-sama mulai dari diri kita untuk belajar agama ini dengan baik.

“Bukankah belajar ilmu agama itu fardhu kifayah (kalau sudah ada yang melaksanakannya maka gugurlah kewajiban bagi yang lainnya) ?”. Maaf tapi itu salah, belajar ilmu agama itu fardhu ‘ain, wajib bagi setiap muslim. “Lho kok bisa ?”. Begini contohnya, kalau seandainya belajar ilmu agama itu fardhu kifayah maka kita tidak perlu tahu solat dhuhur itu 4 roka’at dan tidak perlu melaksanakannya karena sudah ada yang melaksanakannya. Berarti kita tidak perlu tahu bahwa Alloh itu bersemayam diatas Arsy‘ bukan dimana-mana seperti anggapan orang padahal ini masalah Tauhid yang paling mendasar dari Islam. Kita tidak perlu tahu bai’ul ghoror (jual beli yang dilarang) sementara kita banyak bermuamalah. Bagaimana ?.

Belajar Islam disini tidak harus di pondok. Namun bagi kita yang telah diberikan kesempatan untuk belajar di pondok maka harus bersyukur dan berusaha menimba ilmu agama ini dengan sebaik-baiknya dan diamalkan serta mendakwahkannya. Bagi yang tidak belajar di pondok dapat mendatangi majelis-majelis ilmu yang ada di masjid-masjid atau dimana saja yang mengajarkan tentang Islam ini dengan baik yang mengajarkan tauhid, aqidah, muamalah, fiqh dan lain-lainnya. Kenapa kita bisa meluangkan waktu kita untuk bekerja berjam-jam atau sibuk dengan hal lain hingga larut malam akan tetapi tidak bisa meluangkan waktu 1/2 jam atau 1 jam untuk duduk di majelis ilmu.

Mari kita introspeksi diri kita dan lihatlah diri kita. Hampir 90% dari kehidupan kita habis untuk urusan dunia. Kita banyak menghabiskan diri dengan membaca koran, menonton tv dan hal-hal lain yang tidak bermanfaat. Kenapa kita bisa menunaikan hak untuk manusia akan tetapi kita tidak bisa menunaikan hak untuk Alloh ?. Lalu apa hak Alloh ?. Hak Alloh ialah untuk diibadahi tanpa mempersekutukannya dengan apa pun. Tapi kemudian jangan sampai kita salah faham dengan beranggapan kalau begitu kita mencari akherat saja. Akan tetapi yang dimaksud ialah jangan sampai dunia menjadi tujuan hidup kita semata menjadi ambisi yang menyibukkan seluruh waktu kita .


[1] Masih banyak pengertian yang semisal, silahkan merujuk di kitab Shohih Muslim bab Kitabul Iman

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: