jump to navigation

Kecewa Atau Ridho ? August 22, 2007

Posted by sephiroths in Ibroh.
add a comment

        Beberapa minggu sebelum tanggal 17 agustus aku mendapat kabar dari mantan kawan sekerjaku dulu sewaktu aku masih kerja di ISP. “Pren, masuk MTI ( Magister Teknik Industri ) yuk. Hitungannya murah lho tergantung beasiswa masuknya”, katanya. Hatiku pun gembira mendengarnya karena memang saat ini aku ingin menempuh S2 tapi qodarulloh aku belum mampu karena biayanya yang besar. Aku pun mencoba untuk ikut menempuh tes beasiswa tersebut seberapa jauh kah aku mendapatkan keringanan pembayaran.

        Aku juga sebenarnya ingin bikin kejutan untuk kedua orangtuaku kalau aku juga bisa membiayai sendiri pendidikanku J. Jadi beliau tidak aku kabari karena memang rencananya apabila beasiswa itu besar atau bahkan dapat full kan lumayan juga. Paling tidak bisa menyenangkan kedua orang tuaku.

        Tes itu dilaksanakan pada tanggal 18 September 2007 tepatnya pada hari sabtu. Satu hari sebelumnya aku di sms oleh marketing MTI untuk hadir di ruang 101 untuk tes beasiswa. Sampai di kampus aku bertemu dengan kakak angkatanku dan dia adalah salah satu kawan seperjuanganku juga dulu J. Kami kemudian bersalaman dan dia sudah duduk di sebuah kursi panjang di serambi kampus sembari membaca buku “MENELANJANGI SYETAN”. Termasuk kategori buku yang berat dari sisi pembahasan. Aku lupa siapa pengarangnya.

        Sedangkan aku waktu itu datang dengan earphone ditelingaku sembari mendengarkan kajian Syaikh Muhammad ibn Abdil Aziz al-Khudhoiri dengan judul tawazun.

        Aku diminta hadir 1/4 jam sebelum tes dimulai, waktu itu aku sudah hadir 1/2 jam sebelumnya. Waktu terasa lama kalau menunggu sampai aku dan yang lainnya dipanggil untuk mengisi absensi oleh marketing MTI. Aku dan yang lainnya diminta mengisi absensi rangkap dua. Di dalam absensi itu terdapat nama-nama kami, alamat rumah disertai alamat email kemudian tanda tangan.

        Harus antri karena yang mengisi lumayan banyak sekitar dua puluh orang atau lebih tepatnya dua puluh dua. Aku hanya mengisi satu buah absensi karena yang satunya lagi sudah dibawa oleh marketing MTI yang kemudian masuk ke ruang tes. Aku pun kemudian masuk ke ruang tes tersebut kemudian melihat kalau no tes ku ialah 05. Aku pun duduk di kursi yang bertuliskan 05. Tempatnya di barisan depan.

        Kami menunggu sebentar hingga marketing MTI membawa soal tes yang kemudian dibagikan satu per satu. Tes pertama berjudul “Tes Potensi Akademik”. Luar biasa istilah yang sangar J. Kemudian lembar jawaban pun diberikan. Setelah itu kami mulai mengisi tes tersebut. Waktu yang diberikan hingga jam 12.30. Tes tersebut terdiri dari berbagai macam jenis. Mulai dari memahami paragraf, matematis, logika, dan lain-lainnya.

        Tes tersebut lumayan sulit karena aku sendiri tidak memiliki persiapan sebelumnya. Semuanya juga kelihatan serius sekali mengerjakannya. Setelah jam menunjukkan 12.30 kami diminta untuk mengumpulkan lembar jawaban dan soal. Setelah aku mengambil makan siang dalam bentuk nasi kotak yang sudah dipersiapkan oleh mereka. Setelah makan siang kami segera solat Dhuhur.

        Sehabis solat dhuhur tes kedua dimulai. Tes kedua pun berlangsung. Tes yang kedua ialah tes bahasa inggris. Kalau hal ini aku masih pede untuk mengerjakannya tanpa belajar J. Waktu tes kali ini ialah 90 menit. Exhausted kalau bisa dikatakan keadaanku waktu itu J. Tes berlangsung hingga pukul 14.30. Setelah itu soal dan lembar jawaban dikumpulkan jadi satu. Dan kami diminta untuk keluar untuk selanjutnya diwawancara. Dan aku pun keluar bersama dengan yang lainnya.

        Kami mendapatkan snack tambahan sambil menunggu dipanggil untuk wawancara. Setelah beberapa orang yang dipanggi kemudian giliran aku dipanggil untuk masuk.

        Aku kemudian masuk dan bertemu dengan kepala yang membawahi MTI, kami bersalaman dan kemudian dia langsung bertanya yang menurutku tidak ada hubungannya dengan MTI atau pendidikanku. Selanjutnya aku ditanyakan mengenai penjurusan.

        “Mau ambi Manajemen Industri atau Teknik Industri ?”, tanya beliau.

        “Saya insya Alloh mau ambil Manajemen Industri pak”, jawabku.

        “Kamu tahu gak kalau perusahaan yang ingin mendanai untuk beasiswa ini tidak menginginkan memberikan ‘bruk’ keseluruhan dana. Misalkan kamu diterima apakah kamu akan lanjut atau bagaimana ?”.

        “Kalau saya misalkan dana beasiswa yang diterima ini besar saya insya Alloh ya meneruskan pak. Tapi ya itu kalau ternyata tidak besar saya mungkin akan mengurungkan niat saya”.

        “Tapi kamu niat apa tidak untuk sekolah lagi ?”

        “Ya jelas niat pak, ….”

        “Ya sudah yang penting niat dulu mas. Saya dulu waktu mau ambil gelar doktor sampai jadi tukang ngecat tembok lho mas”

        Aku terkejut mendengarnya. Setelah beberapa pertanyaan tersebut aku pun keluar dan solat ashar berjamaah kemudian pulang ke rumah.

        Hari seninnya aku ke kampus untuk melihat apakah sudah ada pengumuman mengenai beasiswa. Sampai di kampus aku bertemu dengan kepala MTI dan aku dikabari kalau pengumumannya sudah keluar dan bisa diambil di kantor MTI. Aku pun segera bergegas ke ruang pengajaran MTI untuk mengambil pengumuman tersebut dalam bentuk surat.

        Surat pengumuman tersebut aku buka dan “JRENG JRENG”. Aku terdiam karena terkejut ternyata beasiswa yang kudapat hanya 2.100.000 dari total biaya 20.000.000. Hiks L..

        “Bagaimana mas ?” tanya kepala MTI.

        “Sudah pak terima kasih” jawabku sambil keluar dari kantor MTI untuk segera bergegas pulang. Biaya tersebut sangat besar sekali mengingat pekerjaanku adalah freelance (istilah halus untuk pengangguran J). Beasiswa tersebut pun baru bisa diaplikasikan di akhir cawu. Jadi untuk menyicilnya aku harus membayar sebesar 2.500.000 per bulan. Mana kuat aku harus membayar sebesar itu per bulan.

        Kecewa ?, ya wajar dan itu biasa. Tapi aku sadar ini sudah qodarulloh (takdir Alloh). Sekalipun aku mendapatkan beasiswa sebesar 8.000.000 akan tetap tidak mungkin aku membayar per bulan sebesar 750.000. Biaya tersebut masih tergolong mahal bagiku. Ini sebagai pelajaran untukku juga agar tidak takalluf.